Keselamatan Kerja Dalam Laboratorium

College Loan Consolidation Tuesday, February 3rd, 2015 - Kelas VII

Keselamatan kerja dalam laboratorium mencakup cara penyimpanan, pemakaian, dan perawatan alat atau bahan laboratorium, serta langkah pertolongan/penanggulangan kecelakaan. Laboratorium yang baik selalu dilengkapi dengan tempat penyimpanan. Alat/bahan sesuai dengan sifat atau jenis alat/bahan tersebut.

Advertisment

Keselamatan Kerja Dalam Laboratorium

Keselamatan kerja dalam laboratorium

Gambar tersebut menggambarkan situasi dalam ruang laboratorium yang dipenuhi oleh alat-alat laboratorium lengkap dengan bahan kimia. Agar terhindar dari kejadian yang tidak diinginkan, kita perlu memperhatikan keselamatan selama bekerja/belajar di ruang laboratorium.

Khususnya bahan kimia yang mudah menguap, mudah terbakar, beracun atau berbahaya harus memiliki tempat khusus yang tertutup atau dilengkapi dengan cerobong uap. Bahan kimia cair sebaiknya tidak diletakkan di tempat yang lebih tinggi dari kepala kita sehingga mempersulit pengambilan dan harus disimpan dalam botol/wadah tertutup rapat, serta tidak terkena panas atau cahaya matahari secara langsung. Usahakan semua botol penyimpanan bahan berlabel untuk menghindari kekeliuran dalam pemakaian. Alat-alat yang rawan rusak atau rawan pecah disimpan dalam lemari tertutup dan aman. Biasakan segera mencuci tangan jika terkena atau setelah menggunakan bahan-bahan kimia cair maupun yang padat. Lebih aman gunakan sarung tangan karet. Jika bahan kimia mengenai mata, cucilah mata dengan air sebanyak-banyaknya sampai tidak terasa pedih. Pastikan selalu ada perlengkapan P3K dan alat pemadam kebakaran di laboratorium serta pahami cara penggunaannya.

Bahan-Bahan Kimia Berkaitan Keselamatan Kerja Dalam Laboratorium

  1. Aluminium sulfat (Aluminium sulphate) Al2(SO4)316H2O. Berupa kristal garam berwarna putih, larut dalam air, dan dapat digunakansebagai pengganti tawas.
  2. Amoniak (Amonia) NH4OH. Larutan mudah menguap, jika terkena kulit atau mata menyebabkan iritasi, uapnya dapat mengganggu pernapasan, dan jika tertelan mengakibatkan kerusakan dalam perut. Semakin pekat larutannya semakin berbahaya. Amonia digunakan sebagai larutan basa.
  3. Asam sulfat teknis (Sulphuric acid, technical) H2SO4. Zat cair tak berwarna, bersifat racun, sangat korosif jika terkena kulit, menimbulkan luka yang parah, dan dapat merusak kain. Asam sulfat teknis digunakan sebagai asam kuat.
  4. Asam klorida pekat (Hidrochloric acid, concentrated) HCl. Zat cair tidak berwarna dengan sifat dan fungsinya sama dengan asam sulfat.
  5. Etanol C2H5OH biasanya disebut alkohol berupa zat cair tidak berwarna, mudah menguap dan terbakar, jika diminum memabukkan. Etanol digunakan sebagai pelarut, dapat juga sebagai desinfektan.
  6. Formalin 40% (Formalin). Larutan 40% formaldehida (HCHO) di dalam air, tidak berwarna, mudah menguap, beracun, berfungsi sebagai pencegah hama atau bahan pengawet, misalnya untuk mengawetkan hewan-hewan kecil dalam botol.
  7. Gliserol (Gliserol) CH2OH.CHOH.CH2OH disebut juga gliserin, berupa cairan agak kental mudah larut dalam air.
  8. Glukosa (Glucose) C6H12O6. Kristal tak berwarna, mudah larut dalam air, termasuk monosakarida.
  9. Kloroform (Cloroform) CHCl2. Zat cair tak berwarna, bersifat racun, uapnya dapat menganggu pernapasan, digunakan sebagai obat bius dan pelarut.
  10. Metilen blue (Methylene blue) C66H18N3SCl zat padat berbentuk serbuk.
  11. Eosin (Eosin). Zat padat larut dalam air atau alkohol digunakan dalam Biologi sebagai pewarna jaringan sehingga mudah diamati, misalnya dalam pengamatan tranportasi air oleh jaringan tumbuhan.
  12. Natrium hidroksida teknis (Sodium Hydroxide, technical) NaOH. Zat padat berupa kristal putih sangat mudah menyerap uap air dan udara sehingga mudah mencair, bersifat racun dan korosif, jika terkena kulit menyebabkan luka bakar.
  13. Kobalt (II) klorida (Cobalt (II) Clorida) C0CI26H2O. Zat padat berbentuk kristal merah, sangat mudah menyerap air dan udara, dalam keadaan kering berwarna biru, dan digunakan untuk menguji kelembaban udara atau menguji kadar air dalam suatu benda.
  14. Yodium kristal (Iodine, Crystal). Zat padat berwarna abu-abu, kehitaman, mudah menyublim dengan uap berwarna ungu, dan korosif. Berbahaya jika tertelan atau terkena kulit. Yodium digunakan segai reagen dalam uji Amilum seperti halnya Lugol. Lugol adalah larutan yodium dalam kalium yodida.
  15. Fenolftalin (Fenolftalein) C2OH14O4, padat tidak berwarna. Larutan 1% dalam alkohol digunakan sebagai indikator asam basa. Jika ke dalam larutan basa ditambahkan dua atau tiga tetes larutan fenolftalin maka larutan tersebut dapat berubah menjadi biru tua jika ditetesi dengan larutan kanji.
  16. Natrium klorida (Sodium cloride) NaCl. Zat padat berupa kristal warna putih sering disebut garam dapur.
  17. Kalium iodida (Potasium iodide) KI. Zat padat berupa kristal tak berwarna, elektrolis larutan ini membebaskan yodium yang berwarna cokelat pada anoda dan warna cokelat tersebut dapat
    berubah menjadi biru tua jika ditetesi dengan larutan kanji.
  18. Kalium permanganat (Potassium permangate) KMNO4. Zat padat berupa kristal berwarna ungu tua, larutannya dalam air berwarna ungu, sebagai oksidator kuat, jika dicampur dengan gliserin atau senyawa organik lain dapat meimbulkan letusan.
  19. Kalium natrium tartrat (Potassium sodium tartrate) COOK.(CHOHO)2 COONa4H2O. Zat padat berupa kristal warna putih, larut dalam air digunakan sebagai larutan fehling untuk menguji adanya bahan pereduksi seperti aldehida dan gula.
  20. Ada dua macam fehling, yaitu fehling A dan fehling B. Fehling A larutan tembaga sulfat berwarna biru, sedangkan fehling B adalah larutan natrium tartrate yang dicampur dengan Natrium Hidroksida, tidak berwarna. Pemakaian fehling A dan fehling B dicampur sama banyak.
  21. Kalsium oksida (Calcium oxide) CaO disebut juga kapur tohor, dapat digunakan untuk membuat air kapur dengan menambah air.

Tata Tertib Laboratorium

Ruang laboratorium yang ada di dalamnya terdapat beberapa alat dan bahan berbahaya perlu dilengkapi dengan peraturan-peraturan untuk menjaga keselamatan selama belajar atau bekerja di ruang laboratorium. Peraturan peraturan tersebut berupa tata tertib yang harus ditaati. Berikut ini contoh tata tertib laboratorium IPA yang ada di sekolah.

  1. Siswa tidak diperkenankan masuk ke dalam laboratorium tanpa seizin guru.
  2. Alat serta bahan yang ada di laboratorium tidak diperkenankan untuk diambil keluar tanpa seizin guru.
  3. Alat dan bahan harus digunakan sesuai dengan petunjuk praktikum yang diberikan.
  4. Jika ada alat-alat yang rusak atau pecah hendaknya segera melapor pada guru.
  5. Jika dalam melakukan percobaan tidak mengerti atau ragu-ragu segeralah bertanya pada guru.
  6. Jika terjadi kecelakaan sekecil apapun segera laporkan pada guru.
  7. Etiket bahan yang hilang atau rusak segera diberitahukan guru.
  8. Botol besar yang berisi bahan kimia jangan diangkat pada lehernya, karena dengan mengangkat demikian akan ada kemungkinan botol menjadi pecah.
  9. Tutup botol hendaknya dibuka sesuai cara yang dianjurkan dan setelah selesai menggunakan isinya hendaknya ditutup segera dan dikembalikan ke tempat semula.
  10. Dalam melakukan percobaan hendaknya menggunakan bahan sesuai dengan petunjuk.
  11. Jika ada bahan kimia yang masuk ke dalam mulut, hendaknya segera dikeluarkan, kemudian berkumur dengan air sebanyakbanyaknya.
  12. Jika tangan atau kulit atau baju terkena asam atau alkali supaya segera dibasuh/dicuci dengan air sebanyak-banyaknya.
  13. Setelah selesai percobaan, alat-alat harus dikembalikan ke tempat semula dalam keadaan kering dan bersih.
  14. Buanglah sampah pada tempat sampah yang sudah disediakan, jangan pada bak cuci.
  15. Sebelum meninggalkan laboratorium, meja praktikum harus dalam keadaan bersih, kran air dan gas ditutup, kontak listrik dicabut.

Beberapa hal terkait keselamatan kerja diatas wajib untuk kita perhatikan dan pahami secara seksama pada saat melakukan percobaan, hal ini bertujuan untuk menjaga keselamatan kerja dalam laboratorium.

Mari berdiskusi tentang "Keselamatan Kerja Dalam Laboratorium"

free web tracker